Postingan

Sehelai Harapan Untuk Membuatmu Bertahan

Gambar
- Kadang kau hanya perlu sehelai bulu, untuk menuliskan kisah sedalam itu - Harapan hadir bagai sehelai daun yang gugur terbawa angin, memasrahkan diri perihal kemana ia akan dibawa pergi. Pohon yang bagiannya dilepas paksa, terus saja meneliti langit sembari meraba angin dan berdoa. Menantikan kabar dedaunan yang telah tinggal jauh menetap pada rahim ibu baru di lain tempat. Kehilangan tak hentinya membuat air mata terkuras, tiap malamnya sesak berhadapan dengan hening dan membawa kembali waktu yang berupa sendu. Hanya untuk menertawakan kehilangan, juga meratapi masa silam yang tak pernah dijadikan tujuan untuk dibahagiakan. Semua perubahan ini terlampau cepat untuk diterima manusia bumi. Kemarin, masih kugenggam tangan itu dengan gemetar, sembari menyelipkan canda pada kantung bajunya yang kusam dan lapang. Hari ini, kugenggam angin dengan terisak, sembari melepasnya dari nadi hingga mengembalikan sunyi pada hari-hari. Bagai genderang yang ditabuh kesunyian, masa...

Berpendar Kemudian Hilang

Gambar
- Ada tangis yang tak tertahan, di bawah pendar lampu persimpangan jalan - Di ujung jalan, lampu berpendar menerbangkan kemerahan senja yang perlahan tertuang gelap gulita. Detik berbaur pada berisik angin yang meniup hela-hela daun kering. Aku tercampur rindu dan cemas dalam waktu yang tertahan dan semakin mengeras, sembari menguatkan pegangan tali yang sedari  tadi mencoba terlepas. Malam bertambah senyap dan hitamnya semakin pekat, menutup jalan pulang hingga bersisa remang di persimpangan. Sejak saat itu, kebingungan meliputiku tak ubahnya pendar lampu. Menanam keraguan dan menghujam bimbang sepenuh genggaman. Bersimbah air mata, harapanku perlahan rebah pada garis bujur di sana. Melukis arah dan memperjelas batas tentang kita yang hanya indah dalam cerita. Sejenak biarkan aku melukai malam temaram yang berbalut rasi bintang dan sayup-sayup rembulan. Biarkan aku sebebas kawanan kunang dan meratap dengan sajak-sajak penuh kesedihan, hingga lenyap tertelan r...

Ketika Mendung Memayungi Malam Temaram

Gambar
“Ketika mendung memayungi malam yang temaram, aku berharap seorang akan datang memutus pilu bersama rintik hujan yang terurai setelah itu.” Ada mendung di matamu malam ini, menahan hujan untuk tak basah pada kelopaknya. Ada kelabu di teras wajahmu sedari tadi, menahan kecewa atas ia yang telah berdusta pada janjinya. Aku tahu betapa banyak sendu yang sudah begitu lama tertahan dalam senyummu, dan perlahan menjadikanmu asing sebab rasa sakit itu sudah singgah terlalu sering. Ketika orang-orang di sana bersuka sebab hujan tak singgah pada pekarangan mereka. Aku hanya tak merasa nyaman, sebab masih membiarkanmu menahan lirih atas perih yang sebenarnya kini sudah saatnya kau untuk pulih. Ketika orang-orang di sana memeluk malam dengan menghamburkan tawa riang, serta riuh petasan. Aku hanya memandang bulan, sembari mengirim pesan untukmu yang masih terjebak kesepian meskipun akhirnya tertahan di atas keraguanku menyatakan. Ingin kukatakan bahwa kesendirian yang membalutm...

Rangkaian Nada Untukmu

Gambar
-Bersama rangkaian melodi malam itu, ku ingin menyaksikan sendu terurai dari wajahmu- Saat langkah kaki mulai berat, begitu pula jalanan di depan yang penuh kabut dan sesat. Cahaya rembulan datang menunjukkan arah luang. Menuntun bayang dalam keremangan untuk pulang, di situ kutemukan dirimu tertambat sunyi dan terjebak di ruang mimpi. Mungkinkah semesta dengan sengaja membuat kita jumpa? Menjadikan hatiku gugur pada wajahmu, pun detak ini yang tak lagi beraroma sendu. Berpegang lelah, aku menyusup pada kisah yang patah. Sepanjang langkah kurasakan denyut-denyut resah bersemayam, menjadikanku sangsi untuk mengenggam jarak yang sudah padam. Sempat bimbang, namun setelahnya ku lihat senyummu mengembang. Mengganti petang dengan terang pada seluruh tempat yang terpandang. Tertambat sudah engkau di jantungku, membuat detaknya makin tak menentu. Dua, tiga, empat kali masih sama, setelahnya begitu banyak getaran di sana. Seribu kunang bersenandung nada rindu, ketika sehari sa...

Bumi Begitu Gelisah Ketika Melihatmu Patah

Gambar
- Izinkan langit melebur lukamu, dan bumi memeluk sendu itu - Ketika langkah penuh luka dan air mata ini ingin mengapaimu yang luluh di sana. Rasanya seperti mati berkali-kali terjerembab ke bumi, sebab tak pernah bisa mengetuk hati yang begitu sunyi. Ingin mendekapmu yang pilu, ingin mengenggammu dalam bisunya detak jantungku. Tapi kabut membuat arahku lengah, tak pernah sampai padamu yang kini sedang terengah. Tanganku kaku, tak bisa lagi menggapai dan menuntunmu melewati haru. Bibir ini pun kelu, bahkan mengeja namamu saja aku tak mampu. Angin menerjang, hujan basah mengguyur dedaunan mendekap kisah sepi yang semakin menutupi seluruh perjalanan ini. Malam terisak, bulan membiru dan bintang-bintang membisu, sebab tangismu tiada usai dan sembab masih menggurung mata itu. Ombak tergulung lusuh, sepanjang laut ikan-ikan terentang kaku pasrah dihajar badai yang terus-menerus hadir dalam senjamu hari itu. Mungkin benar, aku terlahir untuk melukai bumi yang begitu kau...

Wajah Samudera

Gambar
Dalam usia musim penghujan yang makin panjang, kurasa rindu akan makin terpendam. Entah ketika terik di kepala maupun malam yang mendenyutkan ubun-ubun di sana. Jarak menambah samar jalanku untuk menelusur arah pergimu. Kau sudah begitu jauh, bayangmu telah lebur menjelma sunyi. Bahkan detakmu hilang menyisakan misteri. Tuan, mungkinkah aku telah salah jalan? Terhuyung tubuh ini ketika sedang mencoba untuk berdiri lebih kokoh lagi. Sangsi semakin menyesaki hati, merapuhkan harapan untuk berlari mengejarmu di balik sepi. Di langkah pengembaraanku, tak bersisa lagi rindu di dada. Kini semua berbekas air mata, merapal namamu pada titik terlemahku tanpa kata kata hanya dengan sederu embusan napas hasil isak yang masih mengantung disana. Jejak itu membawaku ke bibir samudera teluk utara. Dalam diam kabut menyembunyikan namamu di pangkuan malam. Pasir berdesir, ombak merutuki karang, angin sepoi membelai basah rindu yang perlahan jadi sayu. Nyanyian malam tertambat pada o...

Perahu Tualangku

Gambar
Dari sini ku lihat angin membisu dan air laut membiru. Bergetar hati ini ketika menginggat pelupuk mata yang sendu, sebab begitu banyak air mata yang jatuh untukmu. Pada tanah berpasir ini, aku merebahkan resah yang telah begitu lama merekah. Pada gemuruh ombak yang memecah sunyi, kudekap kenangan silam tentang kamu yang memilih pergi. Telah lama kukosongkan perahu, hingga menunda seluruh penjelajahan masa itu. Hanya untuk mendapatkan lebih banyak waktu melupakanmu. Tetapi mengurung hati dalam sangkar, membuatku tak mampu lagi berdiri untuk melihat sinar. Malam membuatku semakin rapuh dan tak berdaya untuk melepaskan diri, dari bayang-bayangmu yang masih saja rehat di sisi. Ketika bumi membayang hitam, aku menggumpulkan doa untuk ku langitkan. Sembari menunggu janji terpenuhi, selalu kututup malam dengan puji-pujian untuk menenangkan hati yang begitu sepi. Semoga kau benar-benar cepat pergi, dari sisi hatiku yang sudah begitu lemah untuk berdiri. Jangan membebani hati de...